Merusak Anak Tanpa Sadar

Pulau Solor dilihat dari laut

Pulau Solor dilihat dari laut

Salah satu lokasi yang kami kunjungi dalam program khitan massal NTT beberapa waktu yang lalu adalah Pulau Solor. Di pulau ini, terdapat puing-puing peninggalan bersejarah mulai dari peninggalan Sultan Menanga (disebut sebagai penyebar Islam pertama di wilayah Nusa Tenggara timur), peninggalan Portugis hingga peninggalan Jepang.

Di saat hari mulai terik dan kegiatan khitanan hampir usai, saya berinisiatif untuk melihat sebagian peninggalan bersejarah tersebut. Dusun yang kami singgahi ketika itu adalah dusun Menanga. Kebetulan, di dekat rumah warga yang kami jadikan tempat transit tim, disebut ada dermaga kecil buatan jepang dan goa tepi laut yang digunakan tentara Jepang untuk mengintai semasa perang dulu.

Saya bersama salah seorang kru Insan TV mengajak salah seorang anak warga, bernama Alif yang masih duduk di bangku SD, untuk mengantar kami ke peninggalan Jepang tersebut. Akhirnya, setelah menyusuri pantai Menanga yang penuh dengan bakau, kami sampai ke goa Jepang. Ada dua goa yang kami lihat, tetapi yang menarik perhatian saya adalah salah satu goa yang didalamnya disebut terdapat pistol Jepang.

Alif menjawab dengan polosnya bahwa ia sama sekali belum pernah masuk ke goa tersebut. Yang pernah masuk adalah neneknya. Dan neneknya memberikan pesan kepada dirinya agar sekali-kali jangan masuk ke goa tersebut karena ada Tuyul-nya.Namun, saya kaget ketika saya bertanya kepada Alif apakah pernah melihat pistol tersebut di dalam goa? Alif menjawab dengan polosnya bahwa ia sama sekali belum pernah masuk ke goa tersebut. Yang pernah masuk adalah neneknya. Dan neneknya memberikan pesan kepada dirinya agar sekali-kali jangan masuk ke goa tersebut karena ada Tuyul-nya. Jadinya, sampai sekarang ia belum pernah sama sekali masuk ke goa tersebut karena takut kepada Tuyul penunggu goa.

Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Saya demikian sedih mendengar penuturan anak polos ini, karena sejak usia dini sudah ditanamkan pada dirinya ketakutan bukan kepada Allah, tetapi kepada Tuyul.

Sebenarnya, sang nenek bisa mencegah cucunya tersebut untuk main ke goa dengan alasan yang lebih logis, seperti goa tersebut tepat menghadap pantai sehingga ruangan goa bisa kapan saja terendam air yang dapat menenggelamkan siapa saja yang masuk ke dalamnya. Namun, ternyata “Tuyul” dianggap sebagai pencegah yang lebih manjur. Dan berhasil! Sang anak pun jadi takut kepada Tuyul. Ternyata “Tuyul” dianggap sebagai pencegah yang lebih manjur.

Bukan itu saja, Alif juga menceritakan bahwa di salah satu tempat di desanya, ada lokasi yang sering disinggahi Naga. Dia berusaha meyakinkan saya, tetapi ketika saya tanya balik, “Apakah kamu pernah melihat naga itu?” Alif hanya geleng-geleng kepala saja, tanda ia mengakui sebenarnya ia pun belum pernah lihat naga yang sering diceritakan di desanya itu.

Inilah wahai para pembaca budiman, contoh pendidikan anak di tengah masyarakat kita yang masih kerap kali terjadi. Bukan hanya di Solor saja, cara pendidikan seperti itu masih saja banyak terjadi di lingkungan perkotaan yang sudah mengenal peradaban maju. Barangkali, “hantu” dan sejenisnya dianggap sebagai sarana paling efektif bagi orang tua agar anak “nurut” dan tidak bandel. Padahal, itu hanya sarana pencegah sesaat yang tidak menyelesaikan masalah, tetapi justru merusak anak mulai dari sisi aqidah sampai pada rasionalitas berpikir.

Perlu diketahui bahwa kewajiban pertama yang diemban orang tua kepada anak adalah menanamkan aqidah tauhid yang lurus sejak anak berusia sedini mungkin. Anak perlu ditanamkan perasaan bahwa satu-satunya yang paling harus ditakuti hanyalah Allah ta’ala sehingga kelak ketika anak telah dewasa, dalam segala tindakannya ia tidak takut kepada siapapun selain kepada Allah. Inilah pondasi dasar yang konsekuensinya akan membuat anak selalu menjauhi perbuatan kotor dan maksiat (karena takut mendapatkan murka Allah), serta akan teguh dalam pendirian dalam mengambil keputusan yang benar meskipun banyak orang yang mengancamnya.

Kita saksikan, kerusakan mental sebagian oknum pejabat di negeri kita disebabkan mereka tidak takut kepada Allah. Mereka korupsi, mengemplang kekayaaan negara, memperkaya diri dengan fasilitas negara karena mereka tidak merasa takut kepada Allah. Bahkan, yang jadi sandaran mereka bukan lagi Allah, tetapi para dukun.

Sebagai tambahan “intermezo”, lembaga penghajar para koruptor di negeri kita, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), merupakan salah satu lembaga yang paling sering mendapatkan serangan para dukun. Bahkan, pernah terjadi suatu kejadian di saat KPK menyadap seorang wanita yang diincar karena diduga melakukan korupsi, dalam sadapan tersebut diketahui si wanita ini menghubungi seorang dukun, dan terdengar perintah jelas, “Santet ketua KPK!”

Namun, Alhamdulillah petinggi KPK sampai saat ini sehat-sehat saja. Bahkan, Abraham Samad (ketua KPK) beberapa hari yang lalu ketika ditanya wartawan seputar kasus suap pemilu yang saat ini sedang booming dan sarat dengan ancaman santet, Abraham dengan tegas menegaskan, “Ya, jadi orang KPK dilindungi Tuhan. Biar saja dia dilindungi santet”. Dalam kesempatan lain, Abraham mengatakan, “Masak kita takut sama itu. Kita takut sama Allah!”

Nah, sekarang mana yang Anda pilih? Anda memiliki anak yang memiliki kekayaan, sederet titel, dan jabatan tetapi aqidahnya rusak dan menjadi “sahabat” kemaksiatan, atau Anda ingin memiliki anak yang berani dan tidak takut kepada siapapun kecuali hanya takut kepada Allah? Pilihan di tangan Anda

Pembaca mulia, inti dari bahasan ini adalah pengingat bahwa orang tua memiliki tanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya, dengan pendidikan yang benar. Apa yang telah dilakukan orang tua dalam mendidik anaknya, akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah ta’ala kelak. Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan,

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَاْلأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (raja) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan isteri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya.”

Dan pendidikan pertama yang harus ditanamkan kepada anak adalah pendidikan aqidah tauhid yang lurus. Aqidah inilah yang menjadi pondasi dasar bagi anak untuk melangkah ke depan di saat mereka dewasa nanti. Aqidah inilah yang akan menjadi penentu apakah anak akan menjadi manusia yang memiliki integritas atau tidak.

Semoga Allah ta’ala memudahkan setiap orang tua muslim untuk memberikan pengajaran islami yang baik kepada anggota keluarganya. Allahumma aamiin.

 

Yogyakarta, 22 Oktober 2013

Ginanjar Indrajati Bintoro

7 Comments

  1. sardjito says:

    Ternyata tidak hanya orang Jawa yang percaya pada TAHAYUL. Mungkin penyakit ini sudah menjalar ke seluruh NUSANTARA.

  2. zainul says:

    semoga generasi mendatang,, bisa meninggalkan hal-hal yang seperti itu,

  3. vcdfre says:

    artikel yang menarik..
    mungkin yang perlu sedikit dikoreksi arti “takut kepada Allah” disini merupakan kita harus “mendekatkan diri kepada Allah”. berbeda dengan takut kepada binatang buas dll. kita harus menjauhkan diri dari mereka.. : )

    • Rasa takut (khauf) itu memang perlu dijelaskan sendiri, ketika kita akan membahas ibadah.
      Mengapa demikian? karena ibadah itu harus terpenuhi unsur berikut:
      1. Khauf (takut), yaitu rasa takut kepada Allah
      2. Raja’ (harap), yaitu berharap kepada Allah
      3. Mahabbah (cinta), yaitu cinta kepada Allah

      Ketiga unsur di atas harus seimbang. Kalau tidak:
      1. Jika hanya punya rasa khauf saja, ia akan terseret ke pemahaman khawarij
      2. Jika hanya punya rasa raja’ saja, ia akan terseret ke pemahaman murji’ah
      3. Jika hanya punya rasa mahabbah saja, ia akan terseret ke arah zindiq

  4. Y3 says:

    Itulah pola pikir orang2 jaman dulu sangat terbatas sekali, maklum pemahaman agama yg lurus tidak pernah sampai ke mereka2. Itu juga karena informasi2nya selalu dihiasi dg cerita2 dongeng melulu. Contohnya buku pelajaran SD kita saja tidak terlepas dari cerita dongeng.

  5. cahyo sn says:

    ditunggu artikel berikutnya, tentang kisah-kisah perjalanan tim peduli muslim….

  6. Kurangnya pemahaman tentang Islam sehingga terkadang mereka tidak tau apa yang dilakukannya salah kalo dilihat kacamata Islam

Leave a Reply