Reruntuhan Aleppo

Aleppo merupakan kota terpenting di Suriah setelah Damascus. Nama asli kota ini adalah حلب /Ḥalab/, tetapi masyarakat internasional non Arab lebih familiar dengan nama Aleppo. Aleppo termasuk salah satu kota tertua di dunia, pernah dikuasai oleh banyak bangsa / pemerintahan dunia: Hitti, Assyria, Arab, Mongol, Mameluk, dan Utsmaniyyah. Banyak bangunan kuno bersejarah di sini sehingga UNESCO memasukkannya sebagai salah satu World Heritage List.

Sejak terjadi krisis Suriah pada awal tahun 2011 yang lalu, Aleppo turut berguncang. Lalu, pada 19 Juli 2012 terjadilah perang sipil dalam kota yang belum usai hingga sekarang ini.

Menurut penuturan Ustadz Abu Sa’ad, M.A. (relawan kemanusiaan Radio Rodja & Peduli Muslim yang saat ini masih berada di kota Aleppo), kota Aleppo terbagi menjadi dua, lima puluh persen dikuasai pejuang rakyat muslim, setengah sisanya masih dikuasai oleh tentara rezim Syiah pimpinan Bashar Al-Assad. Di siang hari, kota ini termasuk kota yang “panas”, sedangkan di malam hari seperti “kota mati” karena sejak delapan bulan yang lalu, listrik di kota ini mati. Persediaan air bersih pun terbatas. Di malam hari, hanya pejuang rakyat yang berani keluar malam.

Sebenarnya, kaum muslimin sunni di kota Aleppo merupakan mayoritas, dengan persentase sekitar 80%. Syi’ah merupakan minoritas. Akan tetapi, kekuatan militer mereka menjadi kuat karena disokong tentara Iran dan Hizbullah, yang juga merupakan kaum Syi’ah. Dengan demikian, perang di kota ini bukan hanya perang sipil, tetapi perang antara kaum muslimin melawan kaum syi’ah.

  • Sunni: Kaum masih menganggap bahwa sunnah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan oleh para shahabat nabi, merupakan salah satu sumber otentik dasar hukum Islam. Siapa saja yang masih mengakui sunnah Rasulullah ini, masuk dalam kategori istilah sunni (pengikut sunnah).
  • Syi’ah: Kaum yang menganggap bahwa mayoritas shahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah murtad, bahkan Aisyah istri nabi pun dianggap sebagai pezina. Mereka mengaku-aku sebagai pembela Ali bin Abi Thalib (bahasa Arabnya: Syi’atu Ali) sehingga akhirnya lebih populer dengan sebutan Syi’ah.

Pada hakikatnya kaum sunni justru sangat menghormati Ali bin Abi Thalib, bahkan mengakuinya sebagai salah satu Khulafaur-rasyidin. Akan tetapi, kaum sunni memandang bahwa penghormatan kepada Ali, tidak boleh sampai pada tingkatan melampaui batas hingga mengkafirkan shahabat nabi yang lain, seperti yang dilakukan kaum Syi’ah.

Para ulama Islam menyatakan bahwa penyimpangan ajaran Syi’ah sudah sampai pada pondasi agama, sehingga syi’ah bukan merupakan sekte Islam yang menyimpang lagi, tetapi justru agama baru di luar Islam.

Foto: Ustadz Abu Sa'ad, M.A. di atas reruntuhan bangunan Aleppo

Foto: Ustadz Abu Sa’ad, M.A. di atas reruntuhan bangunan Aleppo

Reruntuhan kota Aleppo | Peduli Muslim

Reruntuhan kota Aleppo | Peduli Muslim

Reruntuhan bangunan Aleppo

Reruntuhan bangunan Aleppo

Leave a Reply