Ibu “J”, Janda Penderita Hydrochepalus

oleh: Ummu Abdillah

(mahasiswi Fakultas Kedokteran UGM, relawan Peduli Muslim)

Hari masih panjang, hal inilah yang membuat semangat kami tak kunjung hilang meski beberapa kali salah jalan. Pagi menjelang siang ini kami berupaya mencari tahu di manakah keberadaan rumah seseorang yang belum pernah kami temui sebelumnya. Rumah seseorang yang baru kami dengar ceritanya, tentang kondisi beliau yang saat ini sedang membutuhkan bantuan.

Alhamdulillaah,setelah beberapa kali bertanya pada warga yang kami temui di jalan akhirnya tujuan kami menjadi jelas. Beberapa petunjuk jalan pun menjadi bantuan kala modal alamat saja tak cukup ditangan. Tak selang berapa lama, langkah kami telah dekat dengan kediaman beliau yang sangat sederhana.

Rumah ibu "J" di Berbah Sleman Yogyakarta

Rumah ibu “J” di Berbah Sleman Yogyakarta | Foto: Pedulimuslim

Kami pun dipersilakan untuk masuk kedalam rumahnya yang teramat jauh dari kesan mewah. Beralaskan tanah, dan tak ada sofa atau meja indah yang ditemui. Hanya bangku dan meja kayu sederhana disebuah ruang tamu kecil sebagai tempat kami berbincang bersama.Ibu J, yang saat itu mengenakan pakaian yang sangat sederhana menyambut kami di dalam rumahnya. Suara murattal yang merdu terdengar syahdu dari dalam rumah beliau saat itu. Salam dan sapa pun kami ucapkan pada beliau saat menjelang masuk rumahnya. Kami pun dipersilakan untuk masuk kedalam rumahnya yang teramat jauh dari kesan mewah. Beralaskan tanah, dan tak ada sofa atau meja indah yang ditemui. Hanya bangku dan meja kayu sederhana disebuah ruang tamu kecil sebagai tempat kami berbincang bersama.

Dari perbincangan itulah kami mengetahui dengan pasti kondisi beliau saat ini. Beliau ternyata sejak kecil telah menderita penyakit hydrocephalus. Hydrocephalus adalah kondisi dimana terdapat gangguan aliran maupun peningkatan produksi cairan otak sehingga menekan  jaringan otak disekitarnya. Keluhan yang beliau rasakan telah muncul sejak duduk di bangku kelas empat sekolah dasar.

Hingga saat ini beberapa keluhan seperti kejang, mual, muntah, pusing lemas dan tak tahan terhadap panas masih beliau rasakan. Bagaimana tidak, penyakit hydrocephalus bukanlah penyakit yang dapat disembuhkan seketika. Pada tahun 2008 dengan bantuan dana dari teman-teman, beliau sempat menjalani operasi pemasangan selang VPS (Ventriculo Peritoneal Shunt,) yakni semacam selang yang menghubungkan antara ventrikel (ruang) didalam otak dengan rongga peritoneum di perut. Harapannya, pemasangan VPS ini dapat sedikit mengurangi sakit beliau kala itu. Diharapkan, cairan berlebih yang tertumpuk di ventrikel otak dapat tersalurkan ke rongga peritoneum sehingga penekanan di otak pun berkurang.

Namun, ada kisah sedih lain dibalik kondisi beliau saat itu. Rasa pedih yang beliau rasakan tidak terbatas hanya kondisi sakit yang beliau saat ini. Pada tahun 2011, Ibu J telah resmi bercerai dengan suami beliau. Menurut cerita Ibu J, suami beliau saat itu meninggalkan beliau tanpa kabar selama beberapa bulan sehingga akhirnya beliau memutuskan untuk bercerai. Ibu J pun menjadi seorang janda diusia beliau yang ke 32 tahun. Saat ini Ibu J tinggal bersama dengan saudara beliau. Ayah dan Ibu beliau telah meninggal dunia, dan beliau pun belum memiliki putra dari pernikahan sebelumnya.

“Saya sebenarnya tidak ingin merepotkan saudara seperti ini..Apalagi dengan kondisi saya yang lemah dan tidak bisa apa-apa seperti sekarang. Kakak saya pun harus memenuhi kehidupan keluarganya sendiri tanpa harus saya repotkan”.

Bagi beliau luar biasa rasanya bisa bertahan hingga sekarang. Awalnya, beliau memang pernah sempat bekerja untuk menghidupi kebutuhan sehari-harinya. Namun, karena sakit yang beliau rasakan semakin bertambah parah dan keluhan yang semakin tak tertahankan, akhirnya beliau memutuskan untuk beristirahat di rumah. Dokter yang memeriksa pun telah meminta beliau untuk beristirahat sampai kondisinya cukup stabil. Ibu J pun sempat mengutarakan kekhawatiran beliau, apakah beliau bisa terus kontrol ke rumah sakit untuk memeriksakan penyakitnya. Mengingat kondisi beliau yang saat ini kurang mampu, sedangkan biaya kontrol ke dokter pun tidaklah mudah dijangkau. Apalagi saat ini beliau tidak memiliki kartu Jamkesmas untuk berobat.

“Saya tidak masalah jika harus makan apa adanya. Sebungkus nasi saja insyaa Allaah sudah lebih dari cukup bagi saya. Sehari mungkin belum tentu habis saya makan..Yang terpenting saat ini adalah saya ingin bisa terus berobat sehingga bisa sehat dan dapat kembali bekerja”.

Siang tak terasa telah datang, perbincangan kami dengan beliau pun harus berakhir. Banyak hikmah mendalam yang dapat kami petik dari perjalanan ini. Terulur doa menjelang pulang, semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan Ibu J kekuatan dalam menghadapi sakit yang beliau rasakan, serta membalasnya dengan syurga atas kesabaran yang tiada berbatas. Allaahumma Aamiin..

(Yogyakarta, 16 Mei 2013)

—–

Catatan Redaksi Peduli Muslim:

Apa yang terjadi pada ibu “J” di atas, hanyalah satu contoh kasus yang ada di tengah masyarakat kita. Di luar sana, tentu ada banyak saudari-saudari kita yang mengalami nasib yang sama, atau lebih buruk dari bu “J” (semoga Allah ta’ala memperbaiki kondisi kita). Apa yang mereka alami, adalah perkara yang harus menjadi perhatian kita bersama, sebagai sesama muslim, untuk kita bantu pecahkan solusinya, sesuai kemampuan kita masing-masing.

Alhamdulillah, dalam tiga bulan terakhir ini, Peduli Muslim rutin memberikan bantuan untuk pembiayaan perawatan di Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta. Beliau memiliki jadwal pemeriksaan rutin setiap tanggal dua puluh, tiap bulannya. Dengan kondisi fisiknya yang lemah, tidak memungkinkan bagi beliau untuk beraktivitas mencari penghasilan. Oleh karena itu, beliau juga perlu dibantu dari sisi santunan rutin untuk menyokong kehidupan beliau.

Untuk itulah, kami berupaya untuk menggugah hati kaum muslimin sekalian, untuk memerhatikan kondisi saudari-saudari kita yang membutuhkan bantuan, seperti ibu “J” ini. Anda yang tertarik berpartisipasi dengan Peduli Muslim dalam program ini, silakan mengunjungi halaman Bantuan Donasi kepada Para Janda, Wanita Muallaf, dan Wanita yang Terlilit Hutang.

Untuk menjaga etika, kami tidak menyebutkan nama asli, tetapi nama inisial. Anda yang ingin mengetahui informasi lebih lanjut, dapat langsung mendatangi kantor Peduli Muslim di Pogung Kidul SIA XVI Rt. 01 Rw. 49 No. 8C Sinduadi Mlati Sleman Yogyakarta (Utara Fakultas Teknik UGM).

Leave a Reply