Cerita Ummu Nadzir: Seorang Ibu di Suriah yang Putri dan Cucunya Tewas Dibom Tentara Rezim Al-Assad

Sejak zaman jahiliyyah, bangsa Arab sudah dikenal sebagai bangsa yang suka memuliakan tamu. Hingga kini, ketika tim relawan Peduli Muslim datang ke Suriah -negara yang penduduknya dari bangsa Arab- kami mendapati sifat tersebut masih melekat pada mereka. Di antara warga Suriah yang kami kunjungi adalah Ummu Nadzir Al-Karum. Tujuan kami berkunjung adalah untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan, amanah dari kaum muslimin Indonesia yang dititipkan kepada kami, untuk disalurkan kepada warga Suriah korban perang.

Ummu Nadzir tinggal di pinggiran kampung Ihsim, propinsi Idlib. Kami memandang beliau termasuk di antara warga yang layak diberikan bantuan, apalagi beliau telah kehilangan banyak anggota keluarga akibat perang. Namun, dengan segala keterbatasan yang beliau miliki, beliau tetap antusias dalam menyambut tamu. Ketika kami datang, beliau sedang memasak roti untuk persiapan berbuka bagi beliau dan kedua cucunya. Begitu melihat kami, beliau meminta kami untuk berbuka di rumah beliau. Begitulah sifat asli bangsa Arab yang sangat memuliakan tamu. Bahkan, di setiap rumah yang kami kunjungi di Suriah, selalu saja penghuni rumah mengajak kami untuk makan di rumahnya, baik di waktu berbuka puasa atau di waktu makan yang lain.

Kemudian, sewaktu kunjungan di rumah Ummu Nadzir ini, kami memperoleh kisah yang beliau tuturkan…

Suatu hari di waktu sore, dua putri beliau bersama dua anaknya sedang berada di halaman rumah. Tidak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara bummmm. Terdengar ledakan yang sangat keras. Lalu, terlihat debu berterbangan, semuanya terdiam tanpa suara. Setelah debu mulai menipis, tampaklah empat mayat terkapar tepat di tengah-tengah rumah. Dua putri beliau dan dua cucunya diam tak bernyawa dengan tubuh terkoyak pecahan bom, penuh bersimbah darah. Inna lillahi wa inna ilaihi ro’ji’un.

Sekarang beliau tinggal sebatang kara bersama dengan dua cucu tersayang di rumah yang menjadi saksi bisu kekejaman rezim Bashar Al-Assad dan sekutunya dari kalangan Syiah Iran dan Hizbullah Lebanon (baca: Hizbusy-syaithon). Ketika kami menyerahkan bantuan uang santunan kepada beliau, mata beliau berkaca-kaca tak kuasa menahan rasa haru seraya lisannya mengatakan, Allah yu’tikum as-salamah wal-‘afiyah. Ucapan doa ini terus beliau ulang beberapa kali sampai kami meninggalkan rumah beliau. Kami berjalan dengan hati pedih mendengar suara beliau. Air mata pun mengalir deras sulit untuk dicegah …

Doc: Peduli Muslim

Doc: Peduli Muslim

Info donasi Peduli Suriah: pedulimuslim.com/donasi-suriah

One Comment

  1. TERKINI TERBARU says:

    semoga suriah cepat merdeka

Leave a Reply